Hamil tanpa sperma mungkin hanya bisa dilakukan oleh Maria Perawan yang banyak diceritakan di dalam kitab suci. Dan jika ada wanita jaman sekarang yang mengaku hamil tanpa sperma, bisa dipastikan wanita tersebut berbohong karena ilmu kedokteran kita mempercayai bahwa kehamilan hanya bisa terjadi jika ada sperma yang membuahi sel telur.

Hamil tanpa sperma

Hamil tanpa sperma dan tanpa pembuahan

Tapi percaya atau tidak, dimasa depan kemungkinan itu bisa saja terjadi. Sebuah tim dari Australia menemukan metode canggih pembuahan sel telur dengan cara menggunakan bahan genetik dari sel apapun dalam tubuh, bukan menggunakan sperma. Dan kabarnya teknik ini sangat bermanfaat bagi pasangan tidak subur (mandul) yang sangat mendambakan hadirnya buah hati di tengah-tengah mereka.

Seorang peneliti dari Universitas Monash di Australia, Dr. Orly Lacham-Kaplan, menemukan sebuah metode baru yang memungkinkan terjadinya reproduksi tanpa adanya campur tangan sperma. Dr. Orly mengungkapkan bahwa pihaknya berhasil melakukan pembuahan pada sel telur tikus menggunakan sel-sel tubuh tikus itu sendiri yang disebut sel-sel somatik.

“Prosesnya sama dengan pembuahan normal, dimana dua pasang kromosom X yang terdapat dalam sel telur akan dipisahkan dan dikeluarkan. Kemudian dua set sisanya akan membentuk kombinasi baru dengan sel kromosom sperma.” ujar Dr. Orly.

Meskipun mereka optimis dengan penemuan tersebut, Dr Orly dan timnya tidak bisa menjamin kelangsungan hidup embrio-embrio yang telah terbentuk. Nanti setelah embrio tersebut dipindahkan ke rahim calon ibu baru ketahuan perkembangan selanjutnya. Menurut Dr. Orly kepastian metode ini baru ketahuan setelah delapan bulan ke depan.

Penemuan tim Dr. Orly ini mungkin adalah solusi bagi para pria yang memiliki masalah dengan kualitas spermanya. Seperti diketahui salah satu penyebab kemandulan pada pria adalah karena tidak memiliki sperma yang cukup sehat untuk membuahi sel telur.

Temuan Revolusioner

Sementara itu, menanggapi temuan Dr Orly, seorang pakar fertilitas yaitu Prof. Robert Winston menyebutkan bahwa temuan dr Orly adalah salah satu temuan revolusioner yang sangat bermanfaat bagi para pria yang tidak dapat menghasilkan sperma. “Ini adalah solusi alternatif selain kloning,” ujar Prof. Robert.

Menurut Prof. Robert, metode yang diperkenalkan oleh Dr. Orly secara teori lebih unggul dari pada metode kloning, secara teknis dan etika jauh lebih baik. “Menggunakan dua kromosom tentu lebih bisa diterima bukan?” ujar Prof Winston. Jadi menurut Winston, secara teoritis orang bisa bereproduksi dari dirinya sendiri tapi penggunaan kromosom dari orang yang sama cenderung akan meningkatkan risiko kelainan genetik pada bayi.

Meskipun secara teori bisa dilakukan tetapi pihak Society for the Protection of the Unborn Child (SPUC) belum memberi persetujuan penggunaan metode ini sebagai alternatif reproduksi pada manusia. Juru bicara SPUC mengatakan metode baru dalam reproduksi akan menjadi komoditi yang bisa diperjual belikan.

Menurut SPUC, mengingatkan para calon orang tua untuk memikirkan bagaimana nasib bayi mereka kelak. Jika cara reproduksi tersebut berisiko maka sebaiknya dihindari. Secara umum SPUC merekomendasikan agar metode baru Dr. Orly dan timnya yang memungkinkan wanita bisa hamil tanpa sperma ditangguhkan dulu untuk mendapatkan pengembangan yang lebih baru.