Selain terkenal dengan cewek-ceweknya yang cantik, Bandung juga terkenal sebagai kota pendidikan. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya menjamur berbagai kampus dan perguruan tinggi swasta di kota kembang ini. Sayangnya modernitas kota Bandung juga mempengaruhi kondisi hidup warganya. Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana mahasiswi di Kota Bandung menjalani aktifitas seksual mereka.

Hasil survei sangat mencengangkan dan membuat heboh, bukan hanya di Bandung tapi juga di seluruh Indoneisa. Adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sahabat Anak Dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) yang melakukan polling tersebut dan hasilnya adalah 44,8% mahasiswi dan juga remaja Kota Bandung sudah tidak perawan dan sudah pernah melakukan hubungan seks. Tentu saja laporan ini dengan cepat menyebar terutama di Bandung dan menjadi bahan perdebatan kalangan akademisi.

Mahasiswi Bandung ngeseks di rumah kos

Mahasiswi Bandung ngeseks di rumah kos. Foto: detik

Dari survei tersebut diketahui bahwa hampir sebagian besar mahasiswi kota Bandung sudah tidak perawan lagi. Dan lebih lanjut dari survei tersebut diketahui bahwa sebagian besar mereka para mahasiswa dan mahasiswi ini memilih rumah kos atau rumah sewa sebagai tempat untuk berhubungan seks.

Bagaimana cara mahasiswi tersebut menjadikan rumah kos mereka sebagai tempat esek-esek? bagaimana tanggapan masyarakat sekitar dan bagaimama mereka bisa terjerumus dalam budaya seks bebas tersebut?

Sebagian besar para mahasiswi ini bukanlah warga asli kota Bandung, mereka datang dari berbagai kota di Indonesia meskipun sebagian besar dari mereka masih berasal dari daerah Jawa Barat. Kehidupan yang memaksa mereka menjadi mandiri dan jauh dari keluarga membuat mereka cepat dewasa dalam banyak hal termasuk dalam urusan seks.

Kota Bandung – Gudangnya Cewek Cantik

Di seluruh Indonesia, Kota Bandung terkenal dengan kecantikan cewek-ceweknya dan keramah tamahan para warganya. Hal ini pula yang menjadi daya tarik bagi orang untuk datang berkunjung dan menetap di Bandung. Kota ini lambat laun menjadi heterogen, individual dan sangat ekonomis. Dan seperti halnya kota-kota metropolis lainnya, perkembangan ekonomi akan diikuti dengan meningkatnya pergaulan bebas dan kejahatan remaja. Ini lah yang menjadi alasan mengapa LSM Sahara memilih Bandung sebagai obyek penelitian.

Survei oleh LSM Sahara Indonesia ini dilakukan selama dua tahun, dari 2000 sampai 2002 dengan melibatkan 1.000 orang mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus di Bandung. Dari survei diketahui bahwa tempat yang paling sering mereka gunakan untuk berhubungan seks adalah di rumah tempat kos (51,5 %), kemudian menyusul di rumah-rumah pribadi (sekitar 30 %), ada juga di rumah sang cewek (27,3 persen).

Beberapa pasangan juga ternyata ada yang menyewa hotel untuk berhubungan yakni 11,2 persen, sebagian kecil dari peserta survei mengaku pernah berhubungan seks di depan publik yakni di taman luas (sebanyak 2,5 persen), di tempat rekreasi (2,4 persen), di ruangan kelas di dalam kampus Bandung (1,3 persen), termasuk di dalam mobil (0,4 persen) dan lain-lain yang tak diketahui (0,7 %).

Ketika survei menanyakan perihal kehamilan, maka diketahui sebanyak 72,9% responden wanita pernah hamil di luar nikah, 91,5% dari jumlah tersebut mengaku melakukan aborsi untuk mengeluarkan janin mereka, sisanya mengalami keguguran dan melahirkan bayi. Ketika diusut lebih mendetail, diketahui bahwa para pelaku aborsi tersebut umumnya menggunakan jasa dukun beranak yakni 94,8% dan hanya 5,2% yang mengunjungi rumah sakit dan mendapat perawatan medis.

Pergaulan bebas di kalangan mahasiswa ini tentunya menimbulkan risiko lain selain kehamilan yakni tertular penyakit menular seksual (PMS). Sebanyak 33,2% mahasiswi dan 16,8% mahasiswa yang mengikuti responden tersebut mengaku pernah tertular penyakit seksual oleh pasangannya. Dan yang paling mengagetkan adalah para peserta survei tersebut menyatakan bahwa hubungan yang mereka lakukan adalah suka sama suka dan bukan karena terpaksa.

Sebagian kecil peserta responden, mahasiswa dan mahasiswi mengaku bahwa mereka aktif melakukan hubungan seks pada lebih dari satu pasangan, hal ini terjadi terutama ketika mereka memiliki pacar lebih dari satu orang. Ketua Sahara, Agus Mochtar berpendapat bahwa salah satu penyebab tingginya tingkat seks bebas di kalangan mahasiswi Bandung adalah karena pola komunikasi yang tidak terjalin akrab dengan pemilik rumah kos.

Kurangnya Pengetahuan Reproduksi Para Mahasiswi di Bandung

Dengan semakin sibuknya aktifitas membuat banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pembinaan anak-anaknya ke kampus. Mereka berpikir kewajiban mereka hanya mengirim uang saku dan uang pendidikan setiap bulan. Psikolog Nia Raihanah dari biro Psikologi Salman mengungkapkan bahwa faktor pengawasan yang kurang ketat yang membuat para mahasiswi ini menjadi sangat bebas dan mandiri di tempat kos nya.

Karena sebagian besar rumah kos melarang menerima tamu 24 jam, maka biasanya para mahasiswi ini memasukkan pacar mereka atau mahasiswa teman mereka ke kamar di pagi atau siang hari. Lalu mereka keluar sore atau malam sehingga tidak dicurigai oleh warga sekitar. cara ini tergolong aman dan bebas dari razia warga sekitar.

Menurut Nia, faktor lain yang mempengaruhi para mahasiswi Bandung ini memiliki perilaku bebas seperti itu adalah karena faktor ekonomi. Rata-rata mereka berasal dari daerah lain di luar Bandung, mereka tinggal di rumah kos di sekitar kampus mereka. Keberadaan mereka di lokasi tersebut tentu membawa keuntungan ekonomi bagi warga sekitar yang umumnya beranggapan selama mereka tidak terang-terangan berbuat asusila dan tidak ada laporan masyarakat yang dirugikan, maka warga menutup mata terhadap kondisi dan perilaku seke bebas para mahasiswi tersebut.